RSS

SISTEM TRANSMISI

05 Mar

Sistem transmisi

Tuas pemindah kecepatan (5 kecepatan) pada Mazda Protege.

Sistem transmisi, dalam otomotif, adalah sistem yang berfungsi untuk konversi torsi dan kecepatan (putaran) dari mesin menjadi torsi dan kecepatan yang berbeda-beda untuk diteruskan ke penggerak akhir. Konversi ini mengubah kecepatan putar yang tinggi menjadi lebih rendah tetapi lebih bertenaga, atau sebaliknya.Contoh transmisi 5-kecepatan pada rpm mesin 4.400

Gir nomor           Rasio gir               RPM pada

poros keluar transmisi

1              3.769     1.167

2              2.049     2.147

3              1.457     3.020

4              1.000     4.400

5              0.838     5.251

Torsi tertinggi suatu mesin umumnya terjadi pada sekitar pertengahan dari batas putaran mesin yang diijinkan, sedangkan kendaraan memerlukan torsi tertinggi pada saat mulai bergerak. Selain itu, kendaraan yang berjalan pada jalan yang mendaki memerlukan torsi yang lebih tinggi dibandingkan mobil yang berjalan pada jalan yang mendatar. Kendaraan yang berjalan dengan kecepatan rendah memerlukan torsi yang lebih tinggi dibandingkan kecepatan tinggi. Dengan kondisi operasi yang berbeda-beda tersebut maka diperlukan sistem transmisi agar kebutuhan tenaga dapat dipenuhi oleh mesin.

Transmisi otomatis adalah transmisi yang melakukan perpindahan gigi percepatan secara otomatis. Untuk mengubah tingkat kecepatan pada sistem transmisi otomatis ini digunakan mekanisme gesek dan tekanan minyak transmisi otomatis. Pada transmisi otomatis roda gigi planetari berfungsi untuk mengubah tingkat kecepatan dan torsi seperti halnya pada roda gigi pada transmisi manual.

Kecendenderungan masyarakat untuk menggunakan transmisi otomatis semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini, khususnya untuk mobil-mobil mewah, bahkan type-type tertentu sudah seluruhnya menggunakan transmisi otomatis. Kenderungan yang sama terjadi juga pada sepeda motor seperti Yamaha Mio, Honda Vario.

Moda transmisi otomatik

Transmisi otomatik dikendalikan dengan hanya menggerakkan tuas percepatan ke posisi tertentu. Posisi tuas transmisi otomatik disusun mengikut format P-R-N-D-3-2-L, sama ada dari kiri ke kanan ataupun dari atas ke bawah. Mesin hanya bisa dihidupkan pada posisi P ataupun N saja.

Umumnya moda transmisi otomatik adalah seperti berikut:

P (Park) adalah posisi untuk kendaraan parkir, Transmisi terkunci pada posisi ini sehingga kendaraan tidak bisa didorong.

R (Reverse) adalah posisi untuk memundurkan kendaraan.

N (Neutral) adalah posisi gir netral, hubungan mesin dengan roda dalam keadaan bebas.

D (Drive) adalah posisi untuk berjalan maju pada kondisi normal.

2/S (Second) adalah posisi untuk berjalan maju di medan pegunungan .

1/L (Low) adalah posisi maju pada gir ke satu, hanya digunakan pada saat mengendarai pada medan yang sangat curam.

Sedangkan opsionalnya adalah :

3 adalah posisi untuk berjalan maju dan transmisi tidak akan berpindah pada posisi top gear.

O/D (Over Drive) adalah posisi supaya perpindahan gir pada transmisi terjadi pada putaran mesin yang lebih tinggi.

Cara perawatan transmisi otomatis sebenarnya tidaklah sulit seperti yang diperkirakan banyak orang.

Perawatan transmisi otomatis yang dilakukan sama dengan perawatan yang dilakukan terhadap transmisi manual, berupa pengecekan terhadap kualitas minyak transmisi otomatis (hampir sama dengan minyak rem/Automatic Transmission Fluid dan bukan termasuk oli) dan kebocoran dari packing-packing yang ada. Malah sebenarnya lebih simple dari manual.

Namun kualitas minyak untuk transmisi otomatis ini bila dipergunakan sebagaimana semestinya dan tidak ada kebocoran, bisa tahan 50 ribu kilometer sampai 100 ribu kilometer.Malah sebenarnya bisa sampai 200 ribu kilometer.

Kopling transmisi otomatis ini lebih efisien karena berdaya tahan lama dari oli transmisi manual. Kopling ini terendam dalam bak minyak transmisi dan tidak bergesekan langsung. Berbeda dengan transmisi manual dengan sistem kopling kering yang bersentuhan dengan roda gila.

Kesan bahwa transmisi otomatis perawatannya sulit dan tidak semua bengkel yang bisa menanganinya adalah memang benar. Tetapi bukankah kalau kendaraan diperlakukan dengan benar dalam artian dirawat dengan baik, maka tidaklah mungkin transmisi akan mengalami kerusakan dengan sendirinya.

Yang penting kalau kendaraan mengalami mogok dan ketika harus didorong, bagian roda mobil yang digerakkan transmisi tersebut harus diangkat. Tidak boleh menyentuh jalan ketika ditarik.

Alasannya adalah, pada sistem transmisi otomatis, putaran mesin tersebut dipindahkan untuk memutar roda melalui minyak transmisi yang disemprotkan ke tiap gigi percepatan tersebut. Sedangkan bila ditarik yang terjadi adalah proses kebalikannya, di mana putaran roda akan menghasilkan tekanan kepada katup solenoid yang tertutup karena mesin tidak dihidupkan.

Yang biasanya rusak adalah seal-seal, dan bila sudah parah pompa minyak transmisi tersebut yang akan rusak.

Tergantung Pemakaian

Namun cepat atau tidaknya, baik transmisi otomatis maupun manual tersebut memang tergantung dari pemakaiannya. Bisa saja dari cara membawanya yang kasar, ataupun kendaraan membawa beban lebih.

Karena itu setiap pengemudi sewajarnya mengetahui fungsi-fungsi dari tiap huruf dan angka yang tertera dituas transmisi otomatis tersebut. Misalnya saja angka 1, berarti diperuntukkan bagi tanjakan dan turunan yang sangat curam. Kalau dipakai terus untuk jalur yang datar hanya akan memboroskan bahan bakar saja. Putaran mesin dan kecepatan yang diraih tidak seimbang.

Bila posisi tuas di 2, sebaiknya digunakan bila menghadapi jalan yang menanjak dan menurun yang tidak terlalu curam dan jangka waktu yang agak lama. Sedangkan untuk posisi D ini sama artinya dengan posisi gigi 3, yang diperuntukkan perjalanan dalam kota atau normal.

Untuk menghadapi jalur lurus yang dapat ditempuh dalam kecepatan tinggi serta dalam waktu yang lama dapat mengaktifkan tombol Over Drive (O/D). Gunanya untuk menurunkan putaran mesin yang otomatis dapat menurunkan konsumsi bahan bakar. Posisi ini sama saja dengan gigi 4.

Namun sekarang percepatan transmisi otomatis ini tidak hanya sampai 4 saja, sudah sampai 5 percepatan. Gigi 1, 2, 3, D dan Over Drive. Posisi lain yang harus diketahui kegunaannya adalah posisi N, P dan R. Posisi N ini dapat digunakan ketika berada di lampu merah. Dari posisi D sebaiknya digeser ke posisi N. Sedangkan posisi P ini digunakan ketika memarkirkan kendaraan.

“Mobil tidak akan jalan ketika di starter. Fungsi huruf R adalah kependekan dari Reverse, artinya digunakan untuk mundur. (ian)

Transmisi otomatis terdiri dari 3 bagian utama :

1. Torque Converter

Torque converter berfungsi sebagai kopling otomatis dan dapat memperbesar momen mesin. Sedangkan Torque converter terdiri dari Pump impeller, Turbine runner, dan Stator. Stator terletak diantara impeller dan turbine. Torque converter diisi dengan ATF (Automatic Transmition Fluid)

PERPINDAHAN MOMEN

MESIN > POMPA IMPELLER > TURBIN RUNNER > TRANSMISSION

Fungsi ATF :

- Memindahkan momen puntir pada torque converter.

- Mengendalikan hidraulic control system.

- Melumasi planetary gear dan bagian-bagian lain yang bergerak.

- Mendinginkan bagian-bagian yang bergerak.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada transmisi otomatis, maka perlu diteliti terlebih minyak pelumas yang akan dipakai transmisi otomatis.

2. Planetary Gear Unit (Roda Gigi Planetary)

Roda gigi planetary menerima gerak dari turbin runner di dalam torque converter dan berfungsi sebagai pembantu transmisi. Roda gigi planetary terdiri dari 3 roda gigi ( ring gear, pinion gear dan sun gear) dan planetary carrier. Roda gigi input, output dan stasionery dibuat untuk memindahkan dan membalikkan momen mesin.

3. HYDRAULIC CONTROL UNIT (Sistem Pengontrol Hidraulis)

Berfungsi untuk memindahkan secara otomatis dan menghubungkan roda gigi input, output dan stationery dari roda gigi planetary dan planetary carrier sesuai kondisi jalan.

Kenali Problem Transmisi Otomatis

ATPM memiliki prosedur penggantian oli transmisi secara berkala yang begitu lama. Sekitar 40.000 km hingga tidak perlu diganti selama transmisi tidak mengalami kendala. Hal ini dimungkinkan, bila mengingat sistem trasmisi matik telah dirancang untuk kondisi iklim tropis.

Pendinginan oli transmisi merupakan proses terpenting untuk menjaga transmisi agar dapat selalu bekerja optimal. Apalagi bila kendaraan kerap berhadapan dengan kemacetan lalu lintas, dimana asupan udara segar begitu terbatas dan tingginya suhu di sekitar mobil.

Perilaku pengemudi untuk memindahkan posisi tuas ke N (Neutral) saat berhenti di tengah kemacetan, merupakan salah satu cara agar peningkatan suhu oli transmisi dapat sedikit diredam.

Dan kini, tramsmisi otomatis telah dirancang dengan modul pengatur sendiri sehingga tak hanya bersifat mekanikal. Kontrol elektrik pun sudah menjadi satu bagian tersendiri untuk mengatur kinerja transmisi otomatis selain secara mekanikal. Tak heran bila teknologi Grade Logic Control pada Honda atau mode Tiptronic hadir dari kepintaran sebuah unit pengontrol transmisi.

Namun, sesempurna sebuah sistem dirancang, kerusakan tetap dapat saja terjadi. Apa saja yang mungkin terjadi dengan transmisi otomatis mobil Anda? Silakan simak beberapa gejala kerusakan berikut ini.

Indikasi: Entakan saat perpindahan gigi

Penyebab:

Agar perpindahan setiap gigi transmisi otomatis atau saat tuas berpindah posisi tetap halus tanpa terjadi hentakan, peranti solenoid control valve  berfungsi untuk meredam hal tersebut. Nah, bila kinerja solenoid  ini tidak optimal, entakan akan terjadi.

Selain itu, kerusakan pada control valve  juga dapat terjadi, dimana di dalamnya terdapat komponen per dan piston. Kerusakan seperti per patah atau piston macet dapat menjadi penyebab hentakan ini terjadi.

Indikasi: Mengunci di salah satu gigi

Penyebab:

Bila solenoid control valve  sudah tidak dapat lagi bekerja, kemungkinan mengunci di salah satu posisi gigi pun dapat terjadi. Kian diperparah, bila tuas perseneling tidak dapat digerakan akibat kerusakan komponen yang berjumlah 5 buah untuk transmisi otomatis 4-percepatan.

Indikasi: Perlu putaran tinggi agar mobil dapat berjalan

Penyebab:

Gejala seperti kopling selip ini pada transmisi manual, disebabkan oleh kerusakan pada sil di dalam transmisi. Bocornya sil membuat tekanan di saluran oli pada transmisi otomatis menjadi menurun. Efeknya, membuat pelumasan pada clutch  atau pelat kopling menjadi berkurang dan berakibat pada kerusakan.

Indikasi: Mobil tidak mau berakselerasi

Penyebab:

Terjadi kerusakan pada vehicle speed sensor.  Peranti elektronik ini memiliki fungsi sebagai safe mode  ketika temperatur mesin melebihi batas suhu kerjanya. Jadi bila kerusakan ini terjadi, maka modul transmisi akan memerintahkan untuk menjalankan ‘safe mode’ untuk memaksa pengemudi berhenti berkendara.

Kerusakan menerjang banjir

Air merupakan momok pada komponen bergerak di kendaraan, termasuk transmisi otomatis. Umumnya air bisa masuk melalui lubang ventilasi di transmisi. Bila pada mesin dilengkapi katup searah, tidak demikian dengan transmisi.

Bila selang hawa transmisi ini terbuka atau robek, kemungkinan air masuk menjadi lebih besar. Selain itu, sil pada kabel spidometer juga memungkinkan air menyusup masuk ke dalam transmisi. Dan bila hal ini yang terjadi, solenoid control valve  akan langsung diserangnya dan ketiga gejala di atas akan mungkin terjadi.

Selain itu, posisi vehicle speed sensor  di transmisi tergolong cukup rendah. Bila komponen ini terkena air, besar kemungkinan terjadi hubungan pendek.

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on March 5, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: